ekonomi tiongkok

China sedang tidak baik-baik saja. Ekonomi Negara Tirai Bambu lesu sejak dilanda pandemi Covid-19 dan sudah kehilangan momentum pemulihan. Indikator ekonomi yang keluar, tak juga menunjukkan tanda-tanda ekonomi China bakal bangkit. Ditambah lagi istilah balance sheet recession di China ini betul-betul nyata.

Negara yang dipimpin oleh Xi Jinping ini telah lama menjadi mesin pertumbuhan global. Namun dalam beberapa waktu terakhir, ekonomi salah satu negara adidaya ini melambat, membuat khawatir banyak pihak.

Untuk diketahui, istilah Balance Sheet Recession ini sebelumnya dikeluarkan oleh Richard Koo saat melihat kondisi ekonomi Jepang pada era 1990-an.

Resesi jenis ini terjadi saat utang swasta maupun rumah parlay tangga sangat tinggi, atau ketika perusahaan maupun rumah tangga fokus untuk menabung guna membayar utang ketimbang melakukan belanja atau investasi. Hal ini membuat perekonomian perlahan-lahan mengalami penurunan.

Balance Sheet Recession Bukan Hanya Istilah! Begini Faktanya

Mengutip dari The Financial Times yang melakukan wawancara mendalam kepada salah satu warga China. Song Jingli namanya, Ia merupakan seorang pendiri perusahaan rintisan komunikasi di Beijing berusia 39 tahun.

Menurutnya, tahun 2023 seharusnya menjadi tahun dengan pengeluaran besar. Dia dan suaminya berharap bisa bepergian ke Selandia Baru dan membeli apartemen kedua di ibu kota Tiongkok tersebut. Tapi nyatanya, rencana tersebut hanya angan belaka.

Saat musim panas tiba, kondisi perekonomian telah meyakinkan mereka untuk menghindari pembelian mahal. Ironisnya, Ia mengatakan kondisi ini “Seperti badai akan datang,” kata Song.

Untuk diketahui bahwa kelebihan tabungan di Tiongkok telah meningkat pada paruh pertama tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, dan masih terdapat kesenjangan antara konsumsi sebelum pandemi dan saat ini.

“Tiongkok belum pernah mengalami masalah inflasi yang rendah sebelumnya,” kata Dan Wang, kepala ekonom Hang Seng Bank di Shanghai, seraya mencatat bahwa pertumbuhan pesat dan ekspansi kredit di masa lalu kini melambat seiring dengan menurunnya populasi, dikutip dari The Financial Times.

Khususnya pembelanja muda berada di bawah tekanan untuk mengurangi belanja negara. Pemerintah pada bulan ini berhenti menerbitkan data mengenai pengangguran kaum muda tak lama setelah mencapai rekor tertinggi sebesar 21%, sehingga sangat membebani kepercayaan diri.

Seorang karyawan berusia 25 tahun di sebuah perusahaan milik negara di provinsi timur Anhui, yang meminta untuk dipanggil Pang, mengatakan bahwa dia telah mengurangi pengeluaran setelah adanya pemotongan gaji.

“Saya biasa membeli set perawatan kulit SK-II untuk pacar saya tanpa mengedipkan mata,” katanya, mengacu pada merek premium Jepang yang biasanya berharga sekitar US$200.

Untuk pembelian besar seperti properti dan mobil, dia menambahkan bahwa dia sepenuhnya bergantung pada orang tuanya.

Ada pula pengakuan dari pekerja kantoran berusia 26 tahun lainnya di Beijing, yang bermarga Xu. Ia mengungkapkan bahwa “Saya tidak lagi memiliki keinginan untuk melakukan hal-hal yang tidak penting.” Inilah yang disebut sebagai “penurunan konsumsi”, yang populer di kalangan anak muda. orang yang ingin menghemat uang tunai.

Penjualan ritel untuk periode Juli sedikit meningkat dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu, dan penurunan harga untuk produk sehari-hari tidak meluas meskipun terjadi penurunan harga konsumen secara keseluruhan.

Ironisnya, wawancara The Financial Times pada dua orang pensiunan yang sedang mengantri untuk mendapatkan sebuah restoran di Shanghai mengatakan berita buruknya perekonomian di China saat ini “tidak berdampak” pada pengeluaran mereka, dan mengatakan bahwa hal tersebut lebih merupakan masalah bagi kaum muda.

Ekonomi China ‘Batuk-batuk’

Ekonomi China saat ini telah menghadapi tekanan deflasi dan situasi seperti ini kemungkinan bakal semakin cepat terjadi pada beberapa kuartal mendatang. Ini diakibatkan fakta tadi, warga malas belanja! Inilah jadi asal muasal istilah balance sheet recession menghantui China sama seperti yang pernah dihadapi Jepang.

China dikhawatirkan mengalami dekade yang hilang atau lost decade. Pada periode tersebut perekonomian China dikhawatirkan stagnan, pertumbuhannya rendah dan terkadang berkontraksi.

Para ekonom menyebut perekonomian China saat ini telah meningkatkan tekanan deflasi, dan situasi ini kemungkinan akan semakin cepat terjadi pada beberapa kuartal mendatang.

Pelemahan ekonomi China belum akan membuat pemerintah merevisi pertumbuhan ekonomi. Meskipun hal ini tetap di waspadai pemerintah karena harga komoditas masih belum membaik.

Seperti diketahui, beberapa lembaga Internasional merevisi pertumbuhan ekonomi China pada kuartal  II- 2013, mengalami perlambatan, ini terlihat pada produksi manufaktur dan investasi pada instrumen pendapatan tetap.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, pelemahan ekonomi China bisa berimbas kepada perekonomian negara-negara kawasan termasuk Indonesia. Namun, sambungnya, imbas dari pelemahan ekonomi China ini belum berdampak pada perekonomian Indonesia.

 “Indonesia sejauh ini belum menunjukan peningkatan harga-harga komoditas terkait dengan penurunan pertumbuhan itu,” tuturnya di Kementerian Perekonomian, Jakarta, Kamis (18/7/2013).

Ia pun mengaku optimis komoditas Indonesia yang di ekspor memiliki daya saing yang cukup kuat, terutama Crude Plam Oil. Namun akibat dari pelemahan ekonomi China ini diharapkan tidak berdampak pada permintaan dan penurunan harga komoditas Indonesia.

Ketika ditanya lebih lanjut pelemahan yang terjadi di China akan membuat pemerintah merevisi pertmbuhan, menurutnya hingga saat ini belum ada, meskipun kinerja ekspor belum membaik karena harga komoditas tidak akan naik.

Baca Juga : https://beavercreekbuffalo.com/ekonomi-indonesia-tumbuh-kuat/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *